Minggu, 03 Maret 2013

Film “Di Balik Frekuensi”: Manipulasi Media di Indonesia

 Setelah membahas “Indonesia Menuju Budaya Berbohong”, kali ini blog FightForFreedom masih membahas seputar media televisi, dengan me-review sebuah film dokumenter tentang media televisi di Indonesia yang telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi pemilik media.
Benar kata Pak Lambang, kalau mau mendapatkan fakta berita yang sebenar-benarnya ikutilah linimasa Twitter, bukan media televisi. Dengan adanya twitter (terutama dari jurnalis independen), media massa mainstream tidak bisa lagi mengontrol dan menentukan opini. Ya, saya sepakat, karena media televisi di Indonesia saat ini sudah menjadi “Tell Lie Vision”.

   Tanah, air dan udara, –merupakan sumber daya yang terbatas dan memiliki nilai yang sangat berharga– harus dikuasai negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kepentingan rakyat. Namun sayangnya di Indonesia, frekuensi publik sebagai kekayaan udara dieksploitasi sedemikian rupa oleh para pemilik media (khususnya televisi), dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan publik. Benar-benar negara ini sudah terbeli!

   Setelah reformasi (1998), dengan cepat konglomerasi media menjadi corak industri media di Indonesia dan semakin hari kita menyaksikan pola itu berkembang semakin pesat. Mencengkeram semakin dalam pada sistem operasi media di Indonesia. Ribuan media dengan aneka format baik itu cetak, online, radio, televisi, yang informasinya kita baca, kita lihat dan kita dengar setiap hari ternyata hanya dikendalikan oleh 12 group media saja.
   12 group media dengan pemilik yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri, membanjiri publik dengan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik. 12 grup media itu mengendalikan ribuan media dengan aneka format. Nah, untuk seluruh televisi di negeri ini hanya dimiliki oleh 5 orang saja. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie adalah pemilik ; Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh adalah pemilik MetroTV; Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem Harry Tanoesodibjo (kini telah keluar dari Nasdem) adalah pemilik RCTI, GlobalTV dan MNCTV; Chairul Tanjung adalah pemilik TransTV dan Trans7. Yang akibatnya, televisi menjadi kerap melakukan politisasi dalam sebuah berita antara lain dengan memilih narasumber yang cenderung berpihak kepada mereka. Hanya Eddy Kurnadi Sariaatmadja pemilik SCTV dan Indosiar yang tidak memiliki afiliasi langsung dengan partai politik.
    Jelas, masyarakat sebagai konsumen merupakan pihak yang paling dirugikan akibat perilaku media yang menggunakan frekuensi untuk kepentingan pribadi. Kanal-kanal yang seharusnya digunakan untuk memberikan edukasi yang benar justru digunakan oleh pemilik media untuk melawan musuh-musuhnya. Frekuensi publik digunakan untuk kepentingan mereka, aktivitas kegiatan ketua parpol yang sekaligus pemilik media disiarkan selama ber-jam-jam. Tidak hanya pada kemasan berita, tapi juga kemasan lain seperti acara hiburan, talkshow, bahkan running text, “pesan politik” pemilik televisi tersebut disisipkan.
    Oligopoli biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan bermodal besar. Saat perusahaan media melakukan oligopoli mereka berdagang melalui frekwensi publik yang tujuannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kenyataannya, bagaimana kondisinya kini? Saya rekomendasikan Anda membaca artikel “Oligopoli Media Sudah pada Tahap Membahayakan”, artikel tersebut menyoroti bahwa tahap kepemilikan media sudah pada tahap membahayakan dimana jurnalis yang dipekerjakan direduksi menjadi pegawai dan bukan penulis kritis, korbannya masyarakat mendapatkan produk berita jualan, bukan produk berkualitas perbaikan hidup mereka.
   Isu – isu politik yang kerap ditampilkan dalam pemberitaan memang ada, namun kemudian tidak ada tanggapan berarti karena lagi-lagi isu tersebut berhasil ditutupi dengan baik oleh media. Yang terjadi di Indonesia kurang lebih sama dengan penelitian Noam Chomsky di buku “Politik Kuasa Media” yang mempengaruhi pertelevisian di Amerika.

“DI BALIK FREKUENSI”:
Film Dokumenter Tentang Konglomerasi Media

Fakta-fakta seputar konglomerasi televisi dan kasus-kasus lain soal kepemilikan media inilah kemudian diangkat oleh sutradara muda Ucu Agustin yang bekerja sama dengan Ursula Tumiwa dalam sebuah film dokumenter ‘DI BALIK FREKUENSI’. Film ini mengambil dua tagline sebagai otokritik bagi media, yaitu: “Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!” dan “Media Mengabdi Publik, Tidak Menghamba Pada Pemilik”. Film dokumenter ini mengajak publik untuk melihat apa yang kini tengah terjadi di dunia media di negara kita, khususnya berkenaan dengan media yang menggunakan frekuensi publik sebagai sarananya: televisi. Pemilik media di Indonesia banyak menggunakan frekuensi publik untuk kepentingan bisnis dan politiknya, sehingga pemberitaan televisi berita kerap memihak pemilik media. Film dokumenter ini merupakan salah satu bagian dari proyek Cipta Media Bersama, sebuah proyek kolaborasi dari organisasi nonprofit Wikimedia, ICT Watch!, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan dukungan Ford Foundation, yang bertujuan untuk membuat masa depan media yang lebih baik di Indonesia. Ini merupakan film dokumenter panjang pertama (berdurasi 2 jam 20 menit) yang berbicara tentang media. Proses riset sudah dimulai sejak 15 Desember 2011, bertepatan dengan dibelinya portal berita Detik.com oleh Trans Corporation. Film ini mengisahkan tentang jurnalis yang percaya bahwa pekerja media harus Independen, kritis dan sejahtera. Luviana adalah seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di MetroTV sebagai Asisisten Producer News. Luviana dimutasi dari newsroom ke HRD, tapi ia menolak karena ia journalist. Ia kemudian di-PHK sepihak karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi independensi newsroom yang kerap dipakai oleh kepentingan pemilik. Hingga kini, kasus Luviana masih belum ada penyelesaiannya. Anda bisa melihat jejak-jejak aksi perjuangannya melalui blog WordPress-nya tersebut. Banyak hal-hal reflektif dan personal yang ia share selama menjalani dan melalui semua proses yang berkenaan dengan kasusnya melawan Metro TV. Anda juga bisa melihat foto-foto dokumentasinya di WordPress lainnya Dukung Luviana atau twitter @dukungluviana. Silakan sahabat blogger mem-follow blog dan twitter-nya guna update informasi dan memberikan dukungan. Film ini juga mengisahkan tentang Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Mereka adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong (Sidoarjo) ke Jakarta. Menghabiskan waktu hampir satu bulan demi tekad untuk mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi. Namun kemudian TV One memutarbalikkan pemberitaan tentang kasus Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Aksi protes yang di awal tampak sangat menggebu-gebu sehingga menuai banyak simpati ini berakhir dengan antiklimaks yaitu Hari Suwandi mendadak muncul di layar TV One yang menangis, menyesali aksinya dan meminta maaf kepada Aburizal Bakrie. Sungguh aneh, ada apa dibalik semua itu? Kita tahu, Aburizal Bakri adalah nama di balik perusahaan-perusahaan yang menaungi PT Lapindo dan TV One. Apa yang terjadi di balik perubahan sikap drastis Hari yang sebelumnya begitu heroik? Mari sejenak kita saksikan teaser film dokumenter tersebut di bawah ini:

link  film tsb > http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=mjmRuiWHUAQ

Film dokumenter ini membawa kita pada perjalanan akan sebuah pencarian terhadap makna:
  1. Untuk siapa media dan pers/jurnalisme itu ada?
  2. Untuk siapa mereka bekerja? Untuk publik ataukah untuk pemilik media?
Diharapkan film dokumenter ini bisa sebagai cermin untuk dapat memperlihatkan kenyataan masa depan sebagai pekerja media dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana media bekerja. Juga sebagai cermin bagi masyarakat umum, cermin ini diharapkan menjadi perubahan sikap dari penerimaan mutlak penayangan-penayangan berita sehingga mereka menjadi lebih awas dalam memilih informasi yang mereka terima.
Dalam catatannya tentang film ini, Ucu Agustin menulis:
Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli. Benarkah itu yang tengah terjadi di dunia media kita di era konglomerasi media pasca reformasi 14 tahun silam?
Film ini telah diputar perdana tadi malam, 24 Januari 2013, di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta. Kemudian akan dilanjut dengan menggelar roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Dalam penjelasannya di official web-nya, pemutaran gratis melalui online ditunda terlebih dahulu karena ada rencana untuk mengikutsertakan film ini ke festival film. Film ini tidak menggunakan hak cipta jadi siapa pun yang mau menonton nantinya bisa menggandakan tanpa harus izin terlebih dahulu. Mereka menggunakan creative common, jadi hak cipta itu ada di tangan publik, sehingga siapapun boleh menggandakan film ini secara gratis asal bukan untuk kepentingan komersial. Insya Allah, para pembaca setia blog FightForFreedom akan saya kabari begitu film ini dilepas secara online dan gratis.
Terima kasih buat Ucu Agustin dan tim untuk karya yang luar biasa dan mencerahkan kami ini.
Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
***********
Referensi:

 sumber : http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/01/25/di-balik-frekuensi-tentang-manipulasi-media-di-indonesia/
 


Senin, 28 Januari 2013

Kisah yang Mengharukan: Anak yang Mengeraskan Suaranya di Masjid


Seorang imam masjid mengisahkan..

Ada seorang anak kecil yang umurnya blm mencpai 10 thn. Dia selalu menjalankan shalat berjamaah di masjid, dan selalunya berusaha menempati shaf plg depan. Anak itu biasa mengeraskan suara saat shalat, terutama tatkala saya selesai membaca al-fatihah, si anak membaca “aamiin” dengan suara sangat keras.

Suatu kali, saya ingin menasihati anak ini agar merubah kebiasaannya. Akan tetapi setiap kali saya selesai shalat dan berdzikir anak itu telah pergi, saya tidak sempat berbicara dengannya.


Hingga suatu kali, setelah
selesai shalat saya langsung memegang tangan anak itu sebelum ia pergi. Lalu saya bertanya, “Nak, mengapa kamu sering berteriak keras sewaktu shalat?”
Anak itu menjawab : Rumah saya dekat dengan masjid, tapi ayah tidak pernah ke masjid sama sekali. Saya mengeraskan suara agar ayah mendengar suaraku melalui loudspeaker masjid. Dengan begitu ayah tahu bahwa saya shalat di masjid. Saya berharap ayah segera menyusul ke masjid setelah mendengar suara saya.

Imam tsb melanjutkan ceritanya, “Betapa merinding bulu kudukku ketika mendengar jawaban anak ini. Maka saya bersepakat dengan sebagian jamaah untuk mengunjungi ayah dari anak tersebut untuk memberikan nasihat dan menceritakan apa yang dilakukan anaknya di masjid.

Hingga akhirnya sang ayah bisa tertib menjalankan shalat jamaah di masjid, Allahu akbar walillahilhamd

Sabtu, 26 Januari 2013

Rindu Kami Padamu, Ya Rasul


Islamedia - Wajah-wajah duka terlihat di sebuah rumah sederhana di Madinah. Sesekali terdengar isak tangis. Di hadapan mereka, tampak sesosok tubuh terbujur kaku, kepalanya berada di pangkuan seorang wanita, Siti Aisyah. Perlahan, Aisyah meletakkan kepala laki-laki yang tak bergerak itu di atas bantal. Kemudian Aisyah berdiri, ia memukul-mukul mukanya sendiri seperti yang dilakukan wanita-wanita lain. Kesedihan menyengat.


Hari itu, saat yang menyesakkan dada umat Islam. Seorang manusia mulia, Nabi Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah. Kaum muslimin yang sedang berada di masjid, tak jauh dari rumah Nabi, terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, sebab di pagi hari Nabi terlihat sehat, sembuh dari penyakit yang dideritanya. Mereka tak percaya,  termasuk Umar bin Khattab. Namun, Abu Bakar segera mengingatkan:

“Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati.”

Lebih 14 abad berlalu, tapi kecintaan umatnya kepada Rasul pilihan itu tak juga lekang. Seperti kecintaan Umar, sehingga ia tak percaya jika Nabi bisa wafat. Peringatan Maulid Nabi yang setiap tahun digelar, menjadi salah satu buktinya. Lomba nasyid, tabligh akbar, zikir bersama, istighotshah, ceramah dan pengajian di kampung-kampung kerap mengiringi perayaan tersebut. Mulai dari anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) sampai orangtua. Dari masjid-masjid di gang sempit hingga Istana Negara.

Muhammad, memang patut dicintai dan diteladani seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Ahzab:21. “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik.”
Keteladanan itu bisa dicontoh oleh siapa pun, dengan latar belakang apa pun. Seorang jenderal militer dapat mengikuti strategi dan taktik perangnya. Nabi adalah seorang panglima perang ulung. Saat Perang Badr, Muhammad SAW memimpin pasukan muslimin yang hanya berjumlah 300 orang, dengan perlengkapan seadanya. Sedangkan kekuatan musuhnya, kaum Quraisy, tiga kali lipatnya, dipimpin antara lain oleh Abu Jahal.

Tak ingin kaum muslimin jatuh mentalnya, Muhammad berkata di hadapan mereka. Membakar semangat jihad untuk menghadapi musuh.

“Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga.”

Perang pun pecah di Jum’at, 17 Ramadhan. Serentak pihak muslimin menyerbu ke depan, masih dalam jumlah yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Kemenangan diraih kaum muslimin. Musuh lari tunggang-langgang. Sementara yang tak berhasil dibunuh dan menyelamatkan diri, ditawan oleh pasukan Muhammad.

Firman Allah turun:
“Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga.” (QS.8:17).

Saat Perang Uhud, 15 Syawal 3 H (Maret 625 M), kelihaian strategi perang  Nabi Muhammad saw kembali teruji. Untuk menghadapi kaum Quraisy --yang mencoba membalas dendam akibat kalah dalam Perang Badr-- pasukan Islam mengambil posisi di atas bukit Jabal Uhud. Strategi itu terbukti berhasil karena mampu menaklukkan musuh.

Sayang, kemenangan yang sudah di depan mata sirna ketika pasukan pemanah terpancing oleh ghonimah (harta rampasan perang, red). Mereka pun turun dari bukit dengan melawan instruksi Nabi saw. Maka pasukan Quraisy segera merebut posisi di atas bukit, dan dari situ menyerang pasukan Islam sampai menewaskan 70 syuhada.

Sementara, Perjanjian Hudaibiyah, menjadi potret ketajaman visi Rasulullah saw yang layak dicontoh pemimpin negeri ini. Perjanjian --yang dibuat agar kaum muslimin mendapatkan kemudahan jika hendak umrah dan haji di Mekah itu—mendapat protes keras dari sahabat Nabi. Umar bin Khattab menilai, perjanjian itu hanya menguntungkan Quraisy dan sangat merugikan umat Islam. “Bukankah Engkau utusan Allah, tetapi mengapa membuat perjanjian ini?” tanya Umar.

Ternyata, Perjanjian Hudaibiyah jus­tru menguntungkan kaum muslimin. Dilihat dari sudut politik, kaum muslimin mengalami dan mendapatkan perdamaian, sehingga tidak perlu lagi memusatkan ke­kuatan untuk menghadapi Quraisy. Di­lihat dari sektor pertahanan, kaum mus­limin di Madinah dapat menyusun kekuatan baru dengan aman tanpa merasa diancam terus-menerus dari luar.

Kaum muslimin dari Madinah dengan bebasnya bisa masuk ke Mekah tanpa mendapat tekanan dan ancaman. Mereka bisa bertemu dengan keluarga yang ada di Mekah. Di samping itu, kaum muslimin yang ada di Madinah bisa melakukan perdagangan di Mekah dengan bebas. Hubungan sosial antara kaum muhajirin yang telah meninggalkan Mekah ketika berhijrah, dapat terjalin kembali dengan keluarga dan sahabat di Mekah.

Sifat Nabi Muhammad saw yang adil, bahkan sudah ditunjukkannya jauh sebelum menjadi Rasul. Ketika ia ditunjuk untuk memutuskan siapa yang berhak membawa Hajar Aswad ke dalam Ka’bah oleh para Kabilah di Mekah, dengan bijak Nabi mengambil keputusan. Diambilnya kain, diletakkan Hajar Aswad diatasnya. Setiap perwakilan Kabilah memegang ujung kain tersebut. Semua pihak puas.

Kelembutan dan kasih sayangnya, ia perlihatkan saat menjadi orang pertama yang mengunjungi seorang nenek tua yang sakit. Padahal, nenek tersebut kerap meludahi Nabi Muhammad saw saat hendak pergi ke masjid.

Sayangnya, kemuliaan akhlaq Nabi tak juga bisa diikuti oleh umatnya yang mengaku mencintainya. Contoh, betapa sulitnya sifat jujur dan amanah dimiliki oleh mayoritas rakyat dan pemimpin negeri ini –-sifat yang justru melekat pada diri Nabi yang mereka cintai sehingga diberi gelar “Al Amin.” Korupsi, kebohongan publik, hakim yang mudah disuap, polisi yang kerap meminta “uang damai”, adalah contoh dari borok yang menghiasi wajah Ibu Pertiwi.

Kita boleh jadi kesulitan mengikuti seluruh tindak tanduk Nabi saw yang penuh dengan keagungan. Kepeduliannya, kejujuran, keadilan, kebijaksanaan hingga kelembutannya. Tapi, seberapa sulitkah kita hanya untuk mengikuti salah satu akhlaqnya?

Kita, terutama para pemimpin negeri ini, tampak begitu sukar (atau tidak mau?) mengikuti hanya satu perilaku Nabi saw. Dan kita pun harus merasakan kedukaan yang sama seperti yang dialami oleh kaum muslimin, lebih dari 14 abad lalu, saat Nabi saw wafat. Karena, hampir tidak ada pemimpin yang patut diteladani. Kami rindu padamu ya, Rasul. 

Erwyn Kurniawan

Profil Partai Peserta Pemilu 2014

Berikut profil 10 Partai yang lolos menuju Pentas Pemilu 2014

1. Partai NasDem

  • Ketua     : Patrice Rio Capella
  • Sekretaris jenderal     : Ahmad Rofiq
  • Didirikan     : 26 Juli 2011
  • Kantor pusat    :  Jl. R.P. Soeroso No. 44, Gondangdia Lama, Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta 10350
  • Ideologi     : Pancasila
  • Situs web : http://www.partainasdem.or.id/
2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  • Ketua     : Muhaimin Iskandar
  • Sekretaris jenderal    :  Imam Nachrawi
  • Didirikan    :  23 Juli 1998
  • Kantor pusat     : Jl. Raden Saleh 1 No. 9, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009)   : 27
  • Situs web : http://www.dpp.pkb.or.id/
3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
  • Ketua    :  Luthfi Hasan Ishaq
  • Sekretaris jenderal    :  Muhammad Anis Matta
  • Didirikan     : 20 Juli 1998 (dengan nama  Partai Keadilan), 20 April 2002 (dengan nama  PKS)
  • Kantor pusat     : DKI Jakarta
  • Ideologi     : Islam dan Pancasila
  • Kursi di DPR (2009)  : 57
  • Situs web: http://www.pks.or.id/
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
  • Ketua     Megawati Soekarnoputri (sejak 1999)
  • Sekretaris jenderal     : Tjahjo Kumolo
  • Didirikan     : 1999; 10 Januari 1973 (pendirian PDI, dianggap sebagai penerus)
  • Kantor pusat     : Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan
  • Ideologi     : Marhaenisme
  • Kursi di DPR (2009)  : 95 kursi
  • Situs web : http://www.pdiperjuangan.or.id/
5. Partai Golongan Karya (Partai Golkar)
  • Ketua   :  Ir. Aburizal Bakrie
  • Sekretaris jenderal     : Idrus Marham
  • Didirikan     : 20 Oktober 1964
  • Kantor pusat   :   DKI Jakarta
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009)  : 107
  • Situs web : http://www.golkar.or.id
6. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
  • Ketua     Prof. Dr. Ir. Suhardi, M.Sc
  • Sekretaris jenderal     : H. Ahmad Muzani, S.Sos
  • Kantor pusat     : Jl. RM. Harsono No. 54 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan 12550
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009)  : 26
  • Situs web : http://www.partaigerindra.or.id
7. Partai Demokrat
  • Ketua    :  Anas Urbaningrum
  • Sekretaris jenderal   :   Edhie Baskoro Yudhoyono
  • Ketua fraksi di DPR    : Jafar Hafsah
  • Didirikan     : 9 September 2001
  • Kantor pusat     : DKI Jakarta
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009)  150
  • Situs web : http://www.demokrat.or.id
8. Partai Amanat Nasional (PAN)
  • Ketua     : Hatta Rajasa
  • Sekretaris jenderal    :  Taufik Kurniawan
  • Didirikan     : 23 Agustus 1998
  • Kantor pusat     : Jakarta Selatan, DKI Jakarta
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009): 43
  • Situs web : http://www.pan.or.id
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  • Ketua     : Suryadharma Ali
  • Sekretaris jenderal    :  Irgan Chairul Mahfidz
  • Didirikan    :  5 Januari 1973
  • Kantor pusat    Jl. Diponegoro No.60 10310 Jakarta DKI Jakarta, Telp. 021-31936338, 021-3908070
  • Ideologi   :   Islam
  • Kursi di DPR (2009) : 37
  • Situs web : http://www.ppp.or.id
10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
  • Ketua     : H. Wiranto, S.H.
  • Sekretaris jenderal    :  Dossy Iskandar Prasetyo
  • Didirikan     : 14 November 2006
  • Kantor pusat     : Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta
  • Ideologi     : Pancasila
  • Kursi di DPR (2009) : 18
  • Situs web : http://www.hanura.com

Orang-orang yang di do'akan oleh para Malaikat


Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)


Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' (sumber) :

Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005