Seorang pria asal Fengyi, Provinsi Sichuan, China, membuktikan bahwa dirinya adalah ayah yang sangat mencintai putranya meski putranya itu menderita cacat sehingga tak bisa berjalan.
Dengan segala keterbatasan putranya itu, Yu Xukang (40) tetap menginginkan putranya yang kini berusia 12 tahun itu mengenyam pendidikan. Sayangnya, selain kondisi putranya yang cacat, minimnya sarana transportasi dari desanya menuju sekolah terdekat menjadi kendala.
Sebagai solusi, Yu memutuskan untuk menggendong putranya menyusuri jalan tanah dan berbatu sejauh 8 kilometer untuk mengantar putranya bersekolah. Tak hanya itu, Yu juga menjemput dan kembali menggendong putranya saat sekolah usai. Jadi, dalam sehari Yu harus berjalan dan menggendong putranya hampir 16 kilometer.
"Saya tahu putra saya memiliki keterbatasan fisik, tetapi tak ada yang salah dengan otaknya. Sayangnya, tak ada sekolah yang bisa menerima dia di sini," kata Yu.
"Satu-satunya sekolah yang mau menerimanya hanyalah di SD Fengyi yang jauhnya sekitar 8 kilometer dari desa kami," ujar Yu.
Yu bercerai dengan istrinya sembilan tahun lalu saat Xiao, sang putra, baru berusia tiga tahun. Yu akhirnya memutuskan untuk membesarkan Xiao sendiri. Yu bertekad putranya tidak akan menderita meski hanya diasuh satu orangtua dan berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya itu.
Karena tak ada bus sekolah atau transportasi publik yang bisa mengantar anaknya itu ke sekolah, maka Yu memutuskan satu-satunya alternatif adalah menggendong Xiao saat berangkat dan pulang sekolah.
Yu memperkirakan bahwa dia sudah berjalan lebih dari 2.500 kilometer naik dan turun bukit selama mengantar anaknya bersekolah.
"Putra saya tak bisa berjalan sendiri sehingga dia juga tak bisa naik sepeda. Dia sudah berusia 12 tahun, tetapi tingginya hanya 90 cm," ujar Yu.
"Namun, saya bangga dia kini menjadi salah satu murid dengan nilai terbaik di kelasnya dan saya tahu dia akan mencapai banyak hal hebat. Saya ingin dia bisa kuliah di universitas," Yu berharap.
Setelah kehidupan Yu Xukang dibahas banyak media China, kemudian pemerintah lokal memutuskan akan menyewakan rumah bagi Yu dan putranya di dekat sekolah sehingga Yu tak perlu menggendong putranya itu terlalu jauh.
Selain itu, sekolah Xiao juga akan memiliki asrama dan Xiao bisa menjadi penghuni asrama sehingga bisa mengurangi beban sang ayah.
http://internasional.kompas.com/read/2014/03/11/1814080/Pria.Ini.Setiap.Hari.Gendong.Anaknya.yang.Cacat.16.Km.ke.Sekolah
Rabu, 12 Maret 2014
Selasa, 18 Februari 2014
Mau Jadi Apa setelah Lulus Sarjana Pertanian?
Saat ini baru saja siswa kelas akhir SMA
mengikuti salah satu jalur seleksi masuk perguruan tinggi dengan sistem
undangan yang baru, implementasi perubahan tata cara masuk perguruan
tinggi sebagai pelaksanaan amar MK tentang pembatalan UU BHP. Siswa
diberi pilihan sekaligus banyak PTN, dimana pada kurun waktu sebelumnya
setiap PTN menawarkan undangan masuk bagi siswa SMA secara
sendiri-sendiri. Kelihatannya tantangan pendidikan tinggi pertanian
untuk mendapatkan input mahasiswa yang bagus semakin besar.
Sudah menjadi fenomena, tidak hanya di
Indonesia, termasuk di di Amerika Serikat, Filipina dan negara lain yang
“basisnya” pertanian, terjadi penurunan minat kuliah di bidang
pertanian. Merujuk studi Sjafrida dan Firdaus (2009), selama kurun waktu
lima tahun terakhir terjadi penurunan minat siswa untuk masuk ke
peguruan tinggi bidang pertanian. Kecuali hanya di beberapa perguruan
tinggi seperti IPB dan beberapa universitas di Jawa Timur, di banyak
perguruan tinggi terjadi bangku kosong untuk bidang pertanian yang
ditawarkan. Tidak kurang terdapat lebih dari 5 ribu bangku kosong di
tahun 2008. Dengan demikian menjadi pertanyaan besar, bila dikatakan
pembangunan pertanian untuk Indonesia masih penting, bagaimana kualitas
sumberdaya manusia yang akan menjadi penggeraknya? Apa yang dapat
mendorong minat siswa sehingga nantinya akan membawa perbaikan
konfigurasi ketenagakerjaan di bidang pertanian?
Terlebih dahulu mari kita tengok
konfigurasi ketenagakerjaan Indonesia dikaitkan dengan aspek pendidikan.
Dari data Keadaan Pekerja BPS, hampir 40 persen tenaga kerja di
Indonesia masih hanya lulus SD atau bahkan tidak tamat SD sama sekali.
Yang tamat SMU/SMK sebanyak 28 persen, lebih tinggi 8,5 persen daripada
yang tamat SMP. Menarik pula, ternyata proporsi yang bergelar sarjana
juah lebih tinggi daripada yang lulus dari program diploma, yang bila
ditotalkan keduanya mengambil porsi lebih dari 12 persen. Komposisi ini
tentunya sangat berbeda dengan negara yang lebih dulu berkembang, dimana
proporsi tenaga kerja didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuruan
atau lulusan program diploma (politeknik, community college).
Lebih dalam lagi, konfigurasi ketenagakerjaan untuk sektor pertanian di
Indonesia ternyata masih jauh lebih buruk. Hanya 0,1 persen dari yang
bekerja di sektor ini yang berpendidikan sarjana; lebih tinggi sedikit,
yaitu sekitar 0,2 persen pekerja menamatkan jenjang diploma, dan hanya
sekitar 7 persen di antara pekerja pertanian yang tamat sekolah menengah
atas.
Penelusuran lebih lanjut terhadap minat
lebih dari 4 ribu siswa peserta SNMPTN (Sjafrida dan Firdaus, 2010),
diketahui bahwa mayoritas untuk pilihan pertama bidang kuliah diberikan
siswa tersebut untuk bidang teknik dan kesehatan. Bidang pertanian
menjadi pilihan pertama sekitar 12 persen siswa, berada di bawah bidang
sosial dan bidang pendidikan (MIPA). Diindikasikan pula daris studi
tersebut motivasi utama dalam menentukan pilihan tersebut adalah
keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan adanya peluang untuk
berwirausaha. Selain itu peran orang tua sangat dominan dalam
pengambilan keputusan siswa. Hal ini sebenarnya adalah lumrah. Survey di
USA yang dilakukan oleh Marklein (2007) juga menunjukkan faktor mencari
pekerjaan yang baik juga merupakan pertimbangan utama dalam memilih
kuliah di bidang apa, setelah pertimbangan reputasi akademik perguruan
tinggi bersangkutan. Dari fakta empirik tadi, patut menjadi pertanyaan,
sejauhmana bidang pertanian mempunyai prospek bagi siswa yang memutuskan
untuk mendalaminya?
Jawaban tentunya terkait dengan prospek
pertanian di masa depan. Cara paling mudah yang biasanya digunakan pakar
untuk melihat peran pentingnya pertanian antara lain dengan menggunakan
jargon 5F atau FEW. Untuk 5F, pertanian akan selalu penting di suatu
negara karena merupakan penyedia pangan untuk manusia, pakan untuk
ternak, bioenergi, serat dan sumber pendapatan serta devisa atau food, feed, fuel, fiber and finance. Sedangkan FEW muncul terkait isu krisis global terkini yaitu krisis pangan, energi dan air atau food, energy and water.
Untuk Indonesia, yang tercatat porsi terbesar dari masyarakatnya masih
bekerja di bidang pertanian, tentulah tidak perlu diperdebatkan
pentingnya sektor ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana memberi
keyakinan kepada orang muda bahwa berusaha atau bekerja di sektor
pertanian memang akan memberikan masa depan yang baik.
Sebagai contoh bila di era 70-an jurusan
Tanah adalah termasuk bidang yang diminati lulusan sekolah menengah,
karena waktu itu bekerja di bidang Agraria akan memberikan pendapatan
yang baik, yang berbeda dengan sekarang. Padahal dengan cara yang sama,
orang dapat diyakinkan bahwa dengan kuliah di sana misalnya orang dapat
menjadi pengusaha pupuk (organik) yang sukses. Di salah satu universitas
ternama di Belanda, jurusan ini masih menjadi bidang yang paling
diminati siswa karena aspek ini menjadi tantangan utama di sana untuk
keberhasilan berusaha di bidang pertanian.
Peternakan dan Perikanan Budidaya yang
juga semakin kurang diminati oleh siswa SMA, sebenarnya bisa sangat
prospektif. Para pimpinan daerah saat ini berbondong-bondong datang ke
Solo, guna menyaksikan bisnis sukses di bidang peternakan yang dilakukan
oleh seorang mantan dosen UGM. Meksipun komoditi utamanya sapi perah,
namun core business-nya adalah biogas, pupuk organik, yang
diintegrasikan dengan budidaya ikan patin, shingga dengan luasan lahan
sekitar 13 hektar, ia mampu meraih omset tidak kurang dari seratus
milyar rupiah per bulan. Nilai yang harusnya mampu menggiurkan minat
siswa SMA untuk kuliah di bidang ini. Selain itu sarjana peternakan
tidak harus sebatas menjadi pengusaha ayam atau ternak besar yang cukup
berisiko. Setelah lulus tidak mustahil menjadi pebisnis sukses karena
mempunyai waralaba yoghurt atau produk dari susu lainnya. Atau seorang
sarjana perikanan dapat menjadi pengusaha ikan hias karena dibekali ilmu
menyilangkan berbagai jenis, atau menjadi pemasok bibit ikan yang
beromset milyaran rupiah.
Demikian pula kuliah di bidang Hama dan
Penyakit atau Proteksi Tanaman yang juga merupakan bidang yang jarang
dipilih sekolah siswa SMA saat ini. Ketidaktahuan akan menjadi apa
nanti mungkin salah satu penyebabnya. Padahal selain bekerja di
Karantina atau instansi lain, menjadi pengusaha pestisida (botanis) yang
akan semakin dibutuhkan di masa mendatang harusnya dapat diyakinkan
kepada calon siswa.
Memang tidak mudah mengubah cara
berfikir anak muda kita. Kebiasaan yang serba instan juga menyebabkan
banyak yang tidak mempersiapkan diri dengan baik saat memasuki dunia
riil setelah keluar dari perguruan tinggi. Di sisi lain, perguruan
tinggi memang harus dapat meyakinkan dan membantu calon mahasiswa untuk
mewujudkan niat mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik
setelah jadi sarjana. Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan pentingnya
jiwa kewirausahaan dalam berbagai bidang kuliah di pendidikan tinggi
pertanian. Syukur saat ini banyak perguruan tinggi sudah menekankan
pentingnya kewirausahaan sebagai pelengkap bekal ilmu bagi calon
sarjana. Tekad yang keras dan keberpihakan sangat diharapkan dari setiap
pemimpin perguruan tinggi, sehingga menjadikan anak didiknya
wirausahawan menjadi karakter yang melekat dalam misinya.
Penulis:
M. Firdaus, PhD
Vice Dean, Faculty of Economics and Management
Bogor Agricultural University
Vice Dean, Faculty of Economics and Management
Bogor Agricultural University
sumber : http://www.dikti.go.id/?p=8273&lang=id
Dunia Pertanian di Titik Nadhir
Ada sebuah ironi ketika bangsa ini dikenal sebagai
negara agraris,ternyata tidak berbanding lurus dengan minat calon mahasiswa
pada studi pertanian. Setidaknya data pada hasil Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2008 menunjukkan masih terdapat 2.894
kursi kosong pada program studi bidang pertanian di 47 perguruan tinggi negeri.
Sedangkan pada tahun 2009,data dari panitia SNMPTN trend tersebut terus
berlangsung dengan banyaknya bangku kosong yang masih tersedia di 42 PTN yang
menyebutkan studi pertanian salah satu yang tidak populer. Bisa dibayangkan
ketika kebutuhan pangan kita sudah tidak ada lagi yang mengurus dan
mengembangkannya. Sementara negara-negara lain berlomba-lomba mengembangkan
bidang pertanian sebagai bargaining ekonomi dalam era globalisasi.
Tidak dapat disangkal sampai hari ini sektor pertanian
masih merupakan sektor andalan bagi perekonomian Indonesia. Hal ini bisa
dilihat dari sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto, penyerapan tenaga kerja,
penerimaan devisa, pengurangan kemiskinan dan ketahanan pangan. Era kejayaan
sektor pertanian menuai berkah pada zaman swasembada pangan pada tahun 1984.
Gelar sarjana pertanian begitu bergengsi. Namun, memasuki lompatan jauh ke era
industrialisasi,sektor pertanian ikut tenggelam digilas laju pembangunan
pabrik-pabrik yang menggusur lahan-lahan pertanian. Sektor pertanian mau tidak
mau terkena stigma sebagai pekerjaan orang miskin. Image-nya lekat
dengan pekerjaan yang tidak memiliki prospek ke depan.
Konstuksi paradigma seperti ini tidaklah muncul dari
ruang kosong. Kita turut mendekonstruksi dan memberi simbol-simbol sektor
pertanian menjadi tidak menarik. Padahal, sektor pertanian merupakan penyedia
bahan baku bagi industri,selain itu produk pertanian merupakan kontributor
komoditas ekspor yang cukup penting dan penyedia lapangan kerja untuk
mengurangi pengangguran. Faktor pentingnya sektor pertanian dikalahkan oleh derap
laju indutri yang di satu sisi juga menunjukkan perkembangan yang
signifikan.Sektor industri telah berhasil meningkatkan investasi,mendongkrak
pertumbuhan ekonomi,peningkatan pendapatan per kapita dan kesempatan kerja yang
lebih bervariasi. Meskipun demikian, untuk negara Indonesia yang mayoritas
penduduknya adalah bertani,maka fokus pada pengembangan pertanian adalah harga
mati.
Salah satu dari sekian banyak permasalahan yang
menyandera sektor pertanian adalah SDM yang minim. Perguruan tinggi sebagai pencetak
ahli-ahli pertanian menghadapi situasi dimana fakultas pertanian tidak diminati
oleh calon mahasiswa. Artinya, kita akan menghadapi krisis SDM bidang pertanian
di masa datang. Sementara negara-negara lain sudah mengembangkan
variasi-variasi produk pertaniannya. Kita terbenam dalam lumpur paradigma yang
menganggap untuk bisa mengembangkan pertanian tidak perlu kuliah di perguruan
tinggi.
Ada beberapa faktor penyebab untuk bisa menjawab
kenapa program studi pertanian sepi peminat. Pertama, adanya image
negatif yang mengaitkan pertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek
cerah untuk menjamin masa depan. Mulai dari keluarga sebagai pranata
terkecil,orang tua mensosialisasikan anak-anak harus menjadi dokter, pilot,
polisi dan bidang kerja lain yang non-pertanian. Pilihan bertalian dengan
ekspektasi. Memilih jalan menjadi sarjana pertanian dianggap sama dengan
memilih mendapat status kemiskinan dan pengangguran. Kedua,sektor non pertanian
lebih menjanjikan lapangan pekerjaan dan jaminan kesejahteraan yang lebih
bervariasi. Hal ini bisa kita lihat dengan mata telanjang di kolom lowongan
kerja di berbagai media massa yang sangat jarang membutuhkan lulusan dari
fakultas pertanian.Pada tahun 2008, ada 940 perusahaan/jasa membutuhkan tenaga
kerja, tetapi hanya 3 (tiga) perusahaan atau sekitar 0,31 persen dari total
perusahaan/jasa yang membutuhkan tenaga kerja di bidang sarjana pertanian.
Ketiga,pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah
berjalan setengah hati.Pemerintah lebih memihak pada sektor industri yang
dianggap lebih cepat memacu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, polarisasi
pembangunan kota dan desa juga turut menyumbang makin ditinggalkannya sektor
pertanian. Kota identik dengan kemakmuran dengan sektor industrinya.Sedangkan
desa identik dengan daerah miskin yang tidak punya masa depan bagi pencari
kerja.Padahal jika sektor ini berkembang dan didukung penuh pemerintah,maka
akan menarik gerbong minat calon mahasiswa dan lulusan pertanian untuk bekerja
di sektor pertanian.
Keempat,peran universitas yang belum mampu melakukan
transformasi dalam pengembangan sektor pertanian. Lulusan-lulusan pertanian
cenderung memiliki kemampuan yang homogen hanya di seputar penguasaan teori. Menurut
hasil Survey Subdirektorat Kurikulum dan Program Studi yang dilansir tahun
2005, seorang lulusan sarjana pertanian setidaknya dituntut memiliki 8
kompetensi penting, yakni kompetensi umum di sektor pertanian, mengerti dan
menguasai kearifan lokal daerah yang menjadi domisili ia berkarir, piawai
memanfaatkan ICT, memiliki kemampuan
penyelesaian masalah yang baik, berjiwa enterpreneur, memiliki pengetahuan
bisnis, komunikatif dan mampu bekerja sama serta memiliki jiwa leadership.
Melihat peta permasalahan di atas kita
pertama-tama melihat bagaimana arti penting sektor pertanian bagi pembangunan
bangsa. Untuk itu ada beberapa langkah yang bisa kita rumuskan bersama untuk
mengatasi minimnya peminat studi pertanian. Hal yang sangat mendesak yang perlu
dilakukan adalah dekonstruksi stigma pertanian sebagai pekerjaan yang identik
dengan kemiskinan. Kita ingin mendengar anak-anak berlomba mengangkat tangan
ketika ditanya siapa yang ingin jadi sarjana pertanian. Kita ingin melihat
kursi-kursi perguruan tinggi selalu penuh dengan antusiasme. Memulainya dari
citra pertanian dan lulusan-lulusannya yang berhasil membuat
terobosan-terobosan dalam bidang pertanian.Pertanyaannya mungkin sama dengan
kenapa profesi dokter begitu diminati,kenapa pilot menjadi impian mayoritas
anak-anak.Ternyata pekerjaan-pekerjaan seperti dokter mampu menjamin
kesejahteraan dan akhirnya mendapat prestise di mata publik.Sedangkan
pertanian harus bisa membuktikan diri bahwa lulusannya tidak melulu bekerja
dengan cangkul,sepetak sawah dan pola-pola tradisional lainnya.Pembuktian
dimulai dari perguruan tinggi yang mengembangkan pertanian menjadi profesi yang
menjamin kesejahteraan. Semisal memfokuskan pada agroteknologi/agro- ekoteknologi dan agribisnis.
Penting kiranya merubah kurikulum untuk menarik minat dan menyesuaikan dengan
kebutuhan di masa depan.Memasukkan kewirausahaan dalam kurikulum juga
menarik,agar lulusan pertanian tidak hanya menghasilkan tetapi bisa juga
menjual hasil produknya. Generasi muda akan tertarik jika usaha yang dilakukan
menjanjikan potensi yang besar.
Dukungan dari pemerintah sangat vital.Mengembalikan
sektor pertanian sebagai primadona menjadi keharusan.Pemerintah memiliki
kekuasaan dan sumberdaya untuk mengembangkan pertanian melalui departemen
pertanian.Intinya, jika pertanian didukung perkembanganya oleh pemerintah. Hal
ini akan ditangkap calon mahasiswa sebagai sebuah peluang.Memberi perhargaan (reward)
bagi peneliti-peneliti akan sangat membantu sektor ini diminati.Dukungan
beasiswa terhadap riset-riset mahasiswa,penyediaan lapangan kerja bagi lulusan
pertanian bisa mendongkrak citra yang telah lama pudar.
Kiranya upaya serius menjadikan pertanian sebagai
motor pembangunan juga harus diselaraskan dengan faktor pendukungnya.Jika
tidak,maka bisa dibayangkan anak-anak yang berasal dari keluarga petani tidak
lagi punya cita-cita mengembangkan sektor pertanian negerinya. Mereka saja
sudah kehilangan,apalagi anak-anak dari keluarga non pertanian?
sumber : http://lsapinsancitakapuas.blogspot.com/2012/05/dunia-pertanian-dititik-nadhir.html
Kamis, 25 April 2013
" KETIKA SI DIA PERGI DARIMU "
Bismillahirrahmanirrahim ,,
Sedih rasanya,ketika kita menginginkan seseorang tapi tak bisa
memilikinya..Dan akan lebih sedih ketika telah memilikinya lalu
kehilangannya..Namun semua itu jangan menjadikan dirimu terus Tenggelam
dalam Kekecewaan..
Ketika dia pergi jangan engkau tangisi..
Ketika dia pergi jangan engkau sesali..
Jikalau pun dia pergi jangan rendahkan harga diri..
Ketika si dia pergi jangan harapkan kembali..
Juga jangan emosi..
Jangan pernah sakit hati
Apa lagi frustasi..
KERANA:
Dia pergi untuk diganti..
Dia pergi ada yang lebih baik lagi..
Dia pergi untuk menguatkan hati..
Dia pergi melatih bangkit lagi..
Dia pergi hanya untuk menguji diri..
Dia pergi mengangkat derajat kita pada ILLAHI RABBI..
Dia pergi bukan Akhir segalanya..
Yakinlah suatu hari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala memberi ganti dia yang
pergi dengan sosok yang lain,meski tak serupa dan tak sama..
Ambil Hikmah dari kepergiannya ..
Terimalah yang akan datang dengan tangan terbuka dan hati berlapang
dada..karena Kebahagiaan itu bukan dengan siapa kita menjalani hidup..
Rabu, 24 April 2013
Telat Nikah = Gagap Bersyariat
Oleh : Nandang Burhanudin
"Assalamu'alaikum ... Apa kabar ustadz ... sudah berapa putra?", seorang anak muda terengah menghampiri.
"Waalaikum salam ... kabar baik akhi ... putra 2, 2 putri. Alhamdulillah, dari dua bibit", ungkap sang ustadz sembari mengulurkan tangan menyalami.
"Waduh .. subhanallah ... alf mabruuk ya tadz .. semoga makin berkah dan berlimpah ...", ungkapnya.
"Hadzaa min fadhli Rabbi ... walhamdulillah ... ngomong2 sudah berapa putra?"
"He he ... nikah aja belum, apalagi putra ..." ia menunduk.
"Lho kok bisa? Bukannya dah deket kepala 3 ya?"
"Ya .. ya .. ya .. masih banyak urusan tadz ..", ia menghela napas.
"Ooo ... jadi kalau nikah dan berkeluarga bukan urusan ya?" tanya sang ustadz mendesak.
"Ya .. ya .. ya ..urusan juga sih tadz .." ia gagap.
"Gini akhi ... segala sesuatu itu akan nikmat jika pas waktunya. Ketika pria dikhitan, bayangkan jika sudah terlewat waktu? Makanya Islam mensiratkan khitan itu saat usia belum wajib disuruh shalat. Karena saat baligh, ia harus fokus menimba ilmu dan pengalaman. Baru saat dewasa, ia sudah siap memimpin dunia ... mulai dari memimpin keluarga. Gimana bisa memimpin duania, kalau menikah aja belum terbukti!", jelas sang ustaz.
"Waduh ... ", anak muda itu memegang kepala. Nampak penyesalan menggelayuti raut mukanya.
"Berapa kerugian saat seorang anak muda telah menikah? Banyak bukan? Salah satunya adalah: terhambatnya kelahiran generasi-generasi baru yang diharapkan jika dididik secara benar, bisa menjadi asset berharga bagi kebangkitan umat. Itulah spirit juang warga Palestina, menikah cepat, bernanak banyak, dan beristri empat ... Allahu Akbar .." sang ustadz penuh semangat.
"Oooh ... pantesan ustadz sudah 4 anak dari dua bibit ya tadz ...", ujar anak muda penuh semangat.
"He he ... belum ... 2 bibit itu saya dan istri saya ... he he ...." sang ustadz tersipu malu.
***
Selasa, 23 April 2013
7 HUKUM MENCINTAI SESEORANG
1.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya berduaan
2.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya kpd kemaksiatan
3.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya bergandengan
4.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya kepada jalan syaitan
5.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak keluar dari syariat islam
6.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya berpacaran..
7.Jika engkau mencintainya..
Maka ajaklah kepada pernikahan..
Setuju? :)
By : eL-ghazaly
Facebook.com/
Kamis, 18 April 2013
Arkanul Bujang/ 10 Rukun Bujang
10 rukun bujang untuk Yang Berguguran di Jalan Bujang. ^_^
- al-fahmu : yang kami maksud dengan al-fahmu adalah bahwa kita tidak akan selamanya membujang
- al-ikhlash : adalah berlapang dada jika seorang akhawat incarannya keburu di khitbah & dinikahi oleh ikhwan lain
- al-amal : seorang al-akh al-bujang mampu bekerja dalam diam, artinya ia kalem sepanjang hari, tapi sekalinya posting langsung menyebarkan undangan walimah
- al-jihad : bersungguh-sungguh dalam memerankan amanah sebagai bujang
- at-thadiyah : mampu berkorban meskipun dengan kurban perasaan
- tha'at : patuh tanpa reserve terhadap mursyidul bujang
- tsabat : teguh dan anti galau :P
- tajarrud : produktif dalam amal selama membujang
- ukhuwwah : sesama al-akh al-bujang tidak boleh mengincar 1 akhwat yg sama
- tsiqoh : percaya bahwa kita sama-sama masih bujang.
Langganan:
Postingan (Atom)






