Selasa, 18 Februari 2014

Mau Jadi Apa setelah Lulus Sarjana Pertanian?


Saat ini baru saja siswa kelas akhir SMA mengikuti salah satu jalur seleksi masuk perguruan tinggi dengan sistem undangan yang baru, implementasi perubahan tata cara masuk perguruan tinggi sebagai pelaksanaan amar MK tentang pembatalan UU BHP. Siswa diberi pilihan sekaligus banyak PTN, dimana pada kurun waktu sebelumnya setiap PTN menawarkan undangan masuk bagi siswa SMA secara sendiri-sendiri. Kelihatannya tantangan pendidikan tinggi pertanian untuk mendapatkan input mahasiswa yang bagus semakin besar.

Sudah menjadi fenomena, tidak hanya di Indonesia, termasuk di di Amerika Serikat, Filipina dan negara lain yang “basisnya” pertanian, terjadi penurunan minat kuliah di bidang pertanian. Merujuk studi Sjafrida dan Firdaus (2009), selama kurun waktu lima tahun terakhir terjadi penurunan minat siswa untuk masuk ke peguruan tinggi bidang pertanian. Kecuali hanya di beberapa perguruan tinggi seperti IPB dan  beberapa universitas di Jawa Timur, di banyak perguruan tinggi terjadi bangku kosong untuk bidang pertanian yang ditawarkan. Tidak kurang terdapat lebih dari 5 ribu bangku kosong di tahun 2008. Dengan demikian menjadi pertanyaan besar, bila dikatakan pembangunan pertanian untuk Indonesia masih penting, bagaimana kualitas sumberdaya manusia yang akan menjadi penggeraknya? Apa yang dapat mendorong minat siswa sehingga nantinya akan membawa perbaikan konfigurasi ketenagakerjaan di bidang pertanian?

Terlebih dahulu mari kita tengok konfigurasi ketenagakerjaan Indonesia dikaitkan dengan aspek pendidikan. Dari data Keadaan Pekerja BPS, hampir 40 persen tenaga kerja di Indonesia  masih hanya lulus SD atau bahkan tidak tamat SD sama sekali. Yang tamat SMU/SMK sebanyak 28 persen, lebih tinggi 8,5 persen daripada yang tamat SMP. Menarik pula, ternyata proporsi yang bergelar sarjana juah lebih tinggi daripada yang lulus dari program diploma, yang bila ditotalkan keduanya mengambil porsi lebih dari 12 persen. Komposisi ini tentunya sangat berbeda dengan negara yang lebih dulu berkembang, dimana proporsi tenaga kerja didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuruan atau lulusan program diploma (politeknik, community college). Lebih dalam lagi, konfigurasi ketenagakerjaan untuk sektor pertanian di Indonesia ternyata masih jauh lebih buruk. Hanya 0,1 persen dari yang bekerja di sektor ini yang berpendidikan sarjana; lebih tinggi sedikit, yaitu sekitar 0,2 persen pekerja menamatkan jenjang diploma, dan hanya sekitar 7 persen di antara pekerja pertanian yang tamat sekolah menengah atas.

Penelusuran lebih lanjut terhadap minat lebih dari 4 ribu siswa peserta SNMPTN (Sjafrida dan Firdaus, 2010), diketahui bahwa mayoritas untuk pilihan pertama bidang kuliah diberikan siswa tersebut untuk bidang teknik dan kesehatan. Bidang pertanian menjadi pilihan pertama sekitar 12 persen siswa, berada di bawah bidang sosial dan bidang pendidikan (MIPA). Diindikasikan pula daris studi tersebut motivasi utama dalam menentukan pilihan tersebut adalah keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan adanya peluang untuk berwirausaha. Selain itu peran orang tua sangat dominan dalam pengambilan keputusan siswa. Hal ini sebenarnya adalah lumrah. Survey di USA yang dilakukan oleh Marklein (2007) juga menunjukkan faktor mencari pekerjaan yang baik juga merupakan pertimbangan utama dalam memilih kuliah di bidang apa, setelah pertimbangan reputasi akademik perguruan tinggi bersangkutan. Dari fakta empirik tadi, patut menjadi pertanyaan, sejauhmana bidang pertanian mempunyai prospek bagi siswa yang memutuskan untuk mendalaminya?

Jawaban tentunya terkait dengan prospek pertanian di masa depan. Cara paling mudah yang biasanya digunakan pakar untuk melihat peran pentingnya pertanian antara lain dengan menggunakan jargon 5F atau FEW. Untuk 5F, pertanian akan selalu penting di suatu negara karena merupakan penyedia pangan untuk manusia, pakan untuk ternak, bioenergi, serat dan sumber pendapatan serta devisa atau food, feed, fuel, fiber and finance. Sedangkan FEW muncul terkait isu krisis global terkini yaitu krisis pangan, energi dan  air atau food, energy and water. Untuk Indonesia, yang tercatat porsi terbesar dari masyarakatnya masih bekerja di bidang pertanian, tentulah tidak perlu diperdebatkan pentingnya sektor ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana memberi keyakinan kepada orang muda bahwa berusaha atau bekerja di sektor pertanian memang akan memberikan masa depan yang baik.

Sebagai contoh bila di era 70-an jurusan Tanah adalah termasuk bidang yang diminati lulusan sekolah menengah, karena waktu itu bekerja di bidang Agraria akan memberikan pendapatan yang baik, yang berbeda dengan sekarang. Padahal dengan cara yang sama, orang dapat diyakinkan bahwa dengan kuliah di sana misalnya orang dapat menjadi pengusaha pupuk (organik) yang sukses. Di salah satu universitas ternama di Belanda, jurusan ini masih menjadi bidang yang paling diminati siswa karena aspek ini menjadi tantangan utama di sana untuk keberhasilan berusaha di bidang pertanian.

Peternakan dan Perikanan Budidaya yang juga semakin kurang diminati oleh siswa SMA, sebenarnya bisa sangat prospektif. Para pimpinan daerah saat ini berbondong-bondong datang ke Solo, guna menyaksikan bisnis sukses di bidang peternakan yang dilakukan oleh seorang mantan dosen UGM. Meksipun komoditi utamanya sapi perah, namun core business-nya adalah biogas, pupuk organik, yang diintegrasikan dengan budidaya ikan patin, shingga dengan luasan lahan sekitar 13 hektar, ia mampu meraih omset tidak kurang dari seratus milyar rupiah per bulan. Nilai yang harusnya mampu menggiurkan minat siswa SMA untuk kuliah di bidang ini. Selain itu sarjana peternakan tidak harus sebatas menjadi pengusaha ayam atau ternak besar yang cukup berisiko. Setelah lulus tidak mustahil menjadi pebisnis sukses karena mempunyai waralaba yoghurt atau produk dari susu lainnya. Atau seorang sarjana perikanan dapat menjadi pengusaha ikan hias karena dibekali ilmu menyilangkan berbagai jenis, atau menjadi pemasok bibit ikan yang beromset milyaran rupiah.

Demikian pula kuliah di bidang Hama dan Penyakit atau Proteksi Tanaman yang juga merupakan bidang yang jarang dipilih sekolah siswa SMA saat ini.  Ketidaktahuan akan menjadi apa nanti mungkin salah satu penyebabnya. Padahal selain  bekerja di Karantina atau instansi lain, menjadi pengusaha pestisida (botanis) yang akan semakin dibutuhkan di masa mendatang harusnya dapat diyakinkan kepada calon siswa.

Memang tidak mudah mengubah cara berfikir anak muda kita. Kebiasaan yang serba instan juga menyebabkan banyak yang tidak mempersiapkan diri dengan baik saat memasuki dunia riil setelah keluar dari perguruan tinggi. Di sisi lain, perguruan tinggi memang harus dapat meyakinkan dan membantu calon mahasiswa untuk mewujudkan niat mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah jadi sarjana. Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan pentingnya jiwa kewirausahaan dalam berbagai bidang kuliah di pendidikan tinggi pertanian. Syukur saat ini banyak perguruan tinggi sudah menekankan pentingnya kewirausahaan sebagai pelengkap bekal ilmu bagi calon sarjana. Tekad yang keras dan keberpihakan sangat diharapkan dari setiap pemimpin perguruan tinggi, sehingga menjadikan anak didiknya wirausahawan menjadi karakter yang melekat dalam misinya.

Penulis:
M. Firdaus, PhD
Vice Dean, Faculty of Economics and Management
Bogor Agricultural University 

sumber : http://www.dikti.go.id/?p=8273&lang=id
 

Dunia Pertanian di Titik Nadhir




Ada sebuah ironi ketika bangsa ini dikenal sebagai negara agraris,ternyata tidak berbanding lurus dengan minat calon mahasiswa pada studi pertanian. Setidaknya data pada hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2008 menunjukkan masih terdapat 2.894 kursi kosong pada program studi bidang pertanian di 47 perguruan tinggi negeri. Sedangkan pada tahun 2009,data dari panitia SNMPTN trend tersebut terus berlangsung dengan banyaknya bangku kosong yang masih tersedia di 42 PTN yang menyebutkan studi pertanian salah satu yang tidak populer. Bisa dibayangkan ketika kebutuhan pangan kita sudah tidak ada lagi yang mengurus dan mengembangkannya. Sementara negara-negara lain berlomba-lomba mengembangkan bidang pertanian sebagai bargaining ekonomi dalam era globalisasi.
 
Tidak dapat disangkal sampai hari ini sektor pertanian masih merupakan sektor andalan bagi perekonomian Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto, penyerapan tenaga kerja, penerimaan devisa, pengurangan kemiskinan dan ketahanan pangan. Era kejayaan sektor pertanian menuai berkah pada zaman swasembada pangan pada tahun 1984. Gelar sarjana pertanian begitu bergengsi. Namun, memasuki lompatan jauh ke era industrialisasi,sektor pertanian ikut tenggelam digilas laju pembangunan pabrik-pabrik yang menggusur lahan-lahan pertanian. Sektor pertanian mau tidak mau terkena stigma sebagai pekerjaan orang miskin. Image-nya lekat dengan pekerjaan yang tidak memiliki prospek ke depan.

Konstuksi paradigma seperti ini tidaklah muncul dari ruang kosong. Kita turut mendekonstruksi dan memberi simbol-simbol sektor pertanian menjadi tidak menarik. Padahal, sektor pertanian merupakan penyedia bahan baku bagi industri,selain itu produk pertanian merupakan kontributor komoditas ekspor yang cukup penting dan penyedia lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran. Faktor pentingnya sektor pertanian dikalahkan oleh derap laju indutri yang di satu sisi juga menunjukkan perkembangan yang signifikan.Sektor industri telah berhasil meningkatkan investasi,mendongkrak pertumbuhan ekonomi,peningkatan pendapatan per kapita dan kesempatan kerja yang lebih bervariasi. Meskipun demikian, untuk negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah bertani,maka fokus pada pengembangan pertanian adalah harga mati.

Salah satu dari sekian banyak permasalahan yang menyandera sektor pertanian adalah SDM yang minim. Perguruan tinggi sebagai pencetak ahli-ahli pertanian menghadapi situasi dimana fakultas pertanian tidak diminati oleh calon mahasiswa. Artinya, kita akan menghadapi krisis SDM bidang pertanian di masa datang. Sementara negara-negara lain sudah mengembangkan variasi-variasi produk pertaniannya. Kita terbenam dalam lumpur paradigma yang menganggap untuk bisa mengembangkan pertanian tidak perlu kuliah di perguruan tinggi.

Ada beberapa faktor penyebab untuk bisa menjawab kenapa program studi pertanian sepi peminat. Pertama, adanya image negatif yang mengaitkan pertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek cerah untuk menjamin masa depan. Mulai dari keluarga sebagai pranata terkecil,orang tua mensosialisasikan anak-anak harus menjadi dokter, pilot, polisi dan bidang kerja lain yang non-pertanian. Pilihan bertalian dengan ekspektasi. Memilih jalan menjadi sarjana pertanian dianggap sama dengan memilih mendapat status kemiskinan dan pengangguran. Kedua,sektor non pertanian lebih menjanjikan lapangan pekerjaan dan jaminan kesejahteraan yang lebih bervariasi. Hal ini bisa kita lihat dengan mata telanjang di kolom lowongan kerja di berbagai media massa yang sangat jarang membutuhkan lulusan dari fakultas pertanian.Pada tahun 2008, ada 940 perusahaan/jasa membutuhkan tenaga kerja, tetapi hanya 3 (tiga) perusahaan atau sekitar 0,31 persen dari total perusahaan/jasa yang membutuhkan tenaga kerja di bidang sarjana pertanian.

Ketiga,pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah berjalan setengah hati.Pemerintah lebih memihak pada sektor industri yang dianggap lebih cepat memacu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, polarisasi pembangunan kota dan desa juga turut menyumbang makin ditinggalkannya sektor pertanian. Kota identik dengan kemakmuran dengan sektor industrinya.Sedangkan desa identik dengan daerah miskin yang tidak punya masa depan bagi pencari kerja.Padahal jika sektor ini berkembang dan didukung penuh pemerintah,maka akan menarik gerbong minat calon mahasiswa dan lulusan pertanian untuk bekerja di sektor pertanian.

Keempat,peran universitas yang belum mampu melakukan transformasi dalam pengembangan sektor pertanian. Lulusan-lulusan pertanian cenderung memiliki kemampuan yang homogen hanya di seputar penguasaan teori. Menurut hasil Survey Subdirektorat Kurikulum dan Program Studi yang dilansir tahun 2005, seorang lulusan sarjana pertanian setidaknya dituntut memiliki 8 kompetensi penting, yakni kompetensi umum di sektor pertanian, mengerti dan menguasai kearifan lokal daerah yang menjadi domisili ia berkarir, piawai memanfaatkan ICT, memiliki kemampuan penyelesaian masalah yang baik, berjiwa enterpreneur, memiliki pengetahuan bisnis, komunikatif dan mampu bekerja sama serta memiliki jiwa leadership.

Melihat peta permasalahan di atas kita pertama-tama melihat bagaimana arti penting sektor pertanian bagi pembangunan bangsa. Untuk itu ada beberapa langkah yang bisa kita rumuskan bersama untuk mengatasi minimnya peminat studi pertanian. Hal yang sangat mendesak yang perlu dilakukan adalah dekonstruksi stigma pertanian sebagai pekerjaan yang identik dengan kemiskinan. Kita ingin mendengar anak-anak berlomba mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang ingin jadi sarjana pertanian. Kita ingin melihat kursi-kursi perguruan tinggi selalu penuh dengan antusiasme. Memulainya dari citra pertanian dan lulusan-lulusannya yang berhasil membuat terobosan-terobosan dalam bidang pertanian.Pertanyaannya mungkin sama dengan kenapa profesi dokter begitu diminati,kenapa pilot menjadi impian mayoritas anak-anak.Ternyata pekerjaan-pekerjaan seperti dokter mampu menjamin kesejahteraan dan akhirnya mendapat prestise di mata publik.Sedangkan pertanian harus bisa membuktikan diri bahwa lulusannya tidak melulu bekerja dengan cangkul,sepetak sawah dan pola-pola tradisional lainnya.Pembuktian dimulai dari perguruan tinggi yang mengembangkan pertanian menjadi profesi yang menjamin kesejahteraan. Semisal memfokuskan pada agroteknologi/agro- ekoteknologi dan agribisnis. Penting kiranya merubah kurikulum untuk menarik minat dan menyesuaikan dengan kebutuhan di masa depan.Memasukkan kewirausahaan dalam kurikulum juga menarik,agar lulusan pertanian tidak hanya menghasilkan tetapi bisa juga menjual hasil produknya. Generasi muda akan tertarik jika usaha yang dilakukan menjanjikan potensi yang besar.

Dukungan dari pemerintah sangat vital.Mengembalikan sektor pertanian sebagai primadona menjadi keharusan.Pemerintah memiliki kekuasaan dan sumberdaya untuk mengembangkan pertanian melalui departemen pertanian.Intinya, jika pertanian didukung perkembanganya oleh pemerintah. Hal ini akan ditangkap calon mahasiswa sebagai sebuah peluang.Memberi perhargaan (reward) bagi peneliti-peneliti akan sangat membantu sektor ini diminati.Dukungan beasiswa terhadap riset-riset mahasiswa,penyediaan lapangan kerja bagi lulusan pertanian bisa mendongkrak citra yang telah lama pudar.

Kiranya upaya serius menjadikan pertanian sebagai motor pembangunan juga harus diselaraskan dengan faktor pendukungnya.Jika tidak,maka bisa dibayangkan anak-anak yang berasal dari keluarga petani tidak lagi punya cita-cita mengembangkan sektor pertanian negerinya. Mereka saja sudah kehilangan,apalagi anak-anak dari keluarga non pertanian?

sumber : http://lsapinsancitakapuas.blogspot.com/2012/05/dunia-pertanian-dititik-nadhir.html
 

Kamis, 25 April 2013

" KETIKA SI DIA PERGI DARIMU "




Bismillahirrahmanirrahim ,,

Sedih rasanya,ketika kita menginginkan seseorang tapi tak bisa memilikinya..Dan akan lebih sedih ketika telah memilikinya lalu kehilangannya..Namun semua itu jangan menjadikan dirimu terus Tenggelam dalam Kekecewaan..

Ketika dia pergi jangan engkau tangisi..
Ketika dia pergi jangan engkau sesali..
Jikalau pun dia pergi jangan rendahkan harga diri..
Ketika si dia pergi jangan harapkan kembali..
Juga jangan emosi..
Jangan pernah sakit hati
Apa lagi frustasi..

KERANA:
Dia pergi untuk diganti..
Dia pergi ada yang lebih baik lagi..
Dia pergi untuk menguatkan hati..
Dia pergi melatih bangkit lagi..
Dia pergi hanya untuk menguji diri..
Dia pergi mengangkat derajat kita pada ILLAHI RABBI..
Dia pergi bukan Akhir segalanya..

Yakinlah suatu hari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala memberi ganti dia yang pergi dengan sosok yang lain,meski tak serupa dan tak sama..

Ambil Hikmah dari kepergiannya ..
Terimalah yang akan datang dengan tangan terbuka dan hati berlapang dada..karena Kebahagiaan itu bukan dengan siapa kita menjalani hidup..
 

Rabu, 24 April 2013

Telat Nikah = Gagap Bersyariat


Oleh : Nandang Burhanudin 
"Assalamu'alaikum ... Apa kabar ustadz ... sudah berapa putra?", seorang anak muda terengah menghampiri.
"Waalaikum salam ... kabar baik akhi ... putra 2, 2 putri. Alhamdulillah, dari dua bibit", ungkap sang ustadz sembari mengulurkan tangan menyalami.
"Waduh .. subhanallah ... alf mabruuk ya tadz .. semoga makin berkah dan berlimpah ...", ungkapnya.
"Hadzaa min fadhli Rabbi ... walhamdulillah ... ngomong2 sudah berapa putra?"
"He he ... nikah aja belum, apalagi putra ..." ia menunduk.

"Lho kok bisa? Bukannya dah deket kepala 3 ya?"
"Ya .. ya .. ya .. masih banyak urusan tadz ..", ia menghela napas.

"Ooo ... jadi kalau nikah dan berkeluarga bukan urusan ya?" tanya sang ustadz mendesak.
"Ya .. ya .. ya ..urusan juga sih tadz .." ia gagap.

"Gini akhi ... segala sesuatu itu akan nikmat jika pas waktunya. Ketika pria dikhitan, bayangkan jika sudah terlewat waktu? Makanya Islam mensiratkan khitan itu saat usia belum wajib disuruh shalat. Karena saat baligh, ia harus fokus menimba ilmu dan pengalaman. Baru saat dewasa, ia sudah siap memimpin dunia ... mulai dari memimpin keluarga. Gimana bisa memimpin duania, kalau menikah aja belum terbukti!", jelas sang ustaz.

"Waduh ... ", anak muda itu memegang kepala. Nampak penyesalan menggelayuti raut mukanya.

"Berapa kerugian saat seorang anak muda telah menikah? Banyak bukan? Salah satunya adalah: terhambatnya kelahiran generasi-generasi baru yang diharapkan jika dididik secara benar, bisa menjadi asset berharga bagi kebangkitan umat. Itulah spirit juang warga Palestina, menikah cepat, bernanak banyak, dan beristri empat ... Allahu Akbar .." sang ustadz penuh semangat.

"Oooh ... pantesan ustadz sudah 4 anak dari dua bibit ya tadz ...", ujar anak muda penuh semangat.

"He he ... belum ... 2 bibit itu saya dan istri saya ... he he ...." sang ustadz tersipu malu.

***

Selasa, 23 April 2013

7 HUKUM MENCINTAI SESEORANG


1.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya berduaan

2.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya kpd kemaksiatan

3.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya bergandengan

4.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya kepada jalan syaitan

5.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak keluar dari syariat islam

6.Boleh kita mencintai seseorang asalkan tidak mengajaknya berpacaran..

7.Jika engkau mencintainya..
Maka ajaklah kepada pernikahan..

Setuju? :)

By : eL-ghazaly
Facebook.com/alaudien.alghazaly

Kamis, 18 April 2013

Arkanul Bujang/ 10 Rukun Bujang

10 rukun bujang  untuk Yang Berguguran di Jalan Bujang. ^_^
  1. al-fahmu : yang kami maksud dengan al-fahmu adalah bahwa kita tidak akan selamanya membujang
  2. al-ikhlash : adalah berlapang dada jika seorang akhawat incarannya keburu di khitbah & dinikahi oleh ikhwan lain
  3. al-amal : seorang al-akh al-bujang mampu bekerja dalam diam, artinya ia kalem sepanjang hari, tapi sekalinya posting langsung menyebarkan undangan walimah
  4. al-jihad : bersungguh-sungguh dalam memerankan amanah sebagai bujang
  5. at-thadiyah : mampu berkorban meskipun dengan kurban perasaan
  6. tha'at : patuh tanpa reserve terhadap mursyidul bujang
  7. tsabat : teguh dan anti galau :P
  8. tajarrud : produktif dalam amal selama membujang
  9. ukhuwwah : sesama al-akh al-bujang tidak boleh mengincar 1 akhwat yg sama
  10. tsiqoh : percaya bahwa kita sama-sama masih bujang.

Selasa, 16 April 2013

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Ketika Derita Mengabadikan Cinta




Oleh : Ustadz Habiburahman El Shirazi

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. arapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!


Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.
Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.
"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.
Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.


Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.
Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:  Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."
Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja!  Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!"
"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.
Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.


Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.
Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.
Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.
Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.
Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap  bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."


Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.
Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:
"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."
Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.
Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.