Senin, 14 Mei 2012

Ada DuKa* di Kuta Malaka, bagian 2


 Catatan Perjalanan Trainer Daurah Kapmi Banda Aceh 2012
oleh : Afriandi C, SP



Jam 10.15 Tim trainer DuKa (Daurah Kapmi) tiba di lokasi air terjun kuta malaka, suara air terjun memecah keheningan hutan rimba yang masih asri, kesejukan air terjun yang mengalir dari bebatuan memancing rasa penasaran ane yang sama sekali masih awam dengan tempat ini. Bagaimana dengan air terjun tingkat 2 diatas sana, tapi ane menunggu rekan2 trainer ikhwan lainnya untuk mendaki bersama. Ada pamflet salah satu mapala unsyiah yang terpampang di sebuah pohon yang berisi menjaga kelestarian tempat tersebut dari tangan2 jahil manusia. Tampaknya semangat trainer ikhwan ke atas menjalara ke salah satu trainer akhwat yang ingin menaiki air terjun tingkat 2, tapi dengan faktor keamanan tidak ana izinkan untuk keatas, ya siapa ya bisa menjamin jika sesuatu terjadi diatas, apalagi menurut info yang ane dapat dari mukhlas peserta dalam perjalanan menuju TKP, sekitar 3 truk yang berisi 100an peserta dari pelajar banda aceh dan aceh besar siap menguji tantangan outbond yang telah diskedulkan oleh panitia.

Jam 10.17 ane dan trainer lainnya memutuskan untuk melanjutkan ke air terjun tingkat 3, tanpa komando,  akh budi langsung nyebur ke kolam (kayaknya lepas beban gara2 batal ikut ujian midtem dikampus, padahal uda janji ma ane jam 10 mau cabut ke kampus, tapi setelah liat jauhnya perjalanan langsung pikir2 kembali), akh ikhwan dan mukhlas ngak mau ketinggalan nyebur juga ke kolam, tinggal lah ane ma akh sanusi yang belum, tapi liat mereka berenang bikin iri juga, uda jauh2 kemari sayang kan kalau ngak dimanfaatin juga, dan akhirnya ane terpengaruh bisikan untuk nyemplung, blurr…cebar-cebur, ketawa hahahihi di momen terbaik, muncul niat kami untuk menjebak akh sanusi ceburin ke kolam tapi mas bro ini lihai juga, alhasil lolos juga dari supertrap kami. Puas bermain air di kolam air terjun tingkat 3 saatnya kembali kebawah, muka2 trainer ikhwan pada senyam-senyum sendiri setelah baca pesan yang masuk di layar HP ane dari trainer akhwat. “ Enak kali kayaknya di atas situ ya. Lama kali kok?” , uda ditegur tuh, saat nya turun. Pas lagi mau turun rombongan ibu2 trainer malah lagi asyik jepret sana, jepret sini di kolam tingkat 1. -__-!

Jam 10.30 perjalanan panjang keluar dari lokasi air terjun kembali ke titik peristirahatan di jambo, segera dikumpulkan kembali para trainer ikhwan dan akhwat untuk diberi arahan mengenai  out bond yang akan dilaksanakan, jumlah panitia dan peserta yang mengikuti agenda tersebut,arahan langsung dikomandoi oleh akh budi saputra kurang lebih 15 menit, muncul rasa was2 karna waktu hampir jam 11 siang yang berarti ada beberapa agenda outbond yang terbentur jadwal shalat zuhur yang tinggal 1 jam 35 menit lagi.

Jam 10.45 Rapat bubar, Akh sanusi bersama mukhlas bergegas turun menyambut peserta daurah di perkebunan buah naga, menyusul  rombongan trainer akhwat dan komandan budi untuk segara menuju titik pos out bond yang telah direncanakan tadi, tinggal lah ane bersama perlangkan out bond dari belakang.

Jam 11.00 ane sampai juga walau agak terlambat di pemberhentian dekat sungai 6, rencana mau buat game trust fall/volt (afwan ane ngak tau tulisan English@) , sempat diprotes sama trainer akhwat tempat meluncur peserta  tidak aman karena harus melompat dari lereng curam dipinggir jalan, setelah liat kiri-kanan muncul ide untuk memanfaatkan kereta trainer sebagai tumpuan, alhasil mukhlas pun jadi kelinci percobaan, di tempat lain sanusi sedang menuju kembali ke titik pos awal out bond , disini akh budi mulai kalang kabut menyiapkan game berikutnya, ada sih game yang seru dengan memanfaatkan sungai ke 6 sebagai medianya. Perlengkapan lain tali tambang, pelampung dan lainnya masih tergeletak disamping kereta ane, suara riuh peserta mulai terdengar, tampak beberapa bendera Kapmi yang di bawa oleh peserta dan panitia berkibar laksana pasukan siap bertempur menghadapi tantangan out bond, disini muncul info mendadak dari percakapan telepon bahwa out bond di cancel mendadak, peserta yang lumayan ramai ini sepertinya sangat antusias menuju air terjun, panitia tidak tau mau berbuat apa, hanya pasrah menunggu arahan dari trainer dan pembina, para Pembina Kapmi dengan enteng membiarkan para peserta menuju air terjun, dalam kondisi yang kacau ini wajar jika akh budi yang di amanahkan sebagai ketua regu trainer marah besar kepada Pembina kapmi, ane juga menanyakan apakah ada yang menjamin keselamatan diatas jika terjadi sesuatu, jawaban juga kurang memuaskan terkesan melempar tanggung jawab kepada panitia, saling menyalahkan juga mewarnai, mulai dari tukang survey samapai yang Acc ini tempat jadi kawasan out-bond padahal jika ane melihat kondisi syuro di asrama haji memang tidak serius dipersiapkan dengan baik tim panitia oleh Pembina seolah2 mereka sudah punya jam terbang tinggi. Ane jadi teringat ketika Farm di Ldk Al-ihsan, mengapa akhi habib selalu menyuruh ane mengambil bagian di panitia bukan di trainer, karna fungsinya sangat vital, jika miss komunikasi terjadi bisa jadi Farm bakal kacau kayak kejadiaan tersebut.

Jam 12.00 Akh budi yang masih diselimuti kekecewaan mulai mewanti ke ane untuk tidak usah melanjutkan perjalanan ke atas (titik puncak), apalagi setelah beberapa peserta akhwat tumbang dijalan akibat sesak nafas dan kelelahan, reaksi cepat dilakukan oleh trainer akhwat yang sebagian memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan kembali ke atas sambil membuat posko darurat di tepi jalan sekitar 30 meter setelah sungai ke 6, akh budi makin emosi spontan berkata ke ane , “liat apa yang terjadi, anak orang pada tumbang dijalan, kacau kali” dan selanjutanya kata2 mutiara berhamburan memecah aliran sungai ke 6, hufft… tarik nafas dalam (Loe- Gue -eN), semoga ujian ini cepat berlalu. Ada insiden kecil terjadi sama trainer akhwatnya saat mengevakuasi peserta  kedua yang tumbang dijalan, mungkin saking semangat 45 sampai harus terjatuh, sontak para trainer ikhwan bergerak cepat. Trainer akhwat tersebut langsung dicek kondisinya oleh trainer akhwat yang lainnya, kreta pun di evakuasi oleh akh ikhwan ke tempat yang aman. Sesaat keadaan normal kembali, akh ikhwan pun juga bertanya ke ane “kok bisa jadi begini bang?”, hmm.. bab ini panjang sekali untuk dibahas, ya apapun itu jumlah peserta hampir 100 orang adalah fantastis, di kampus acara seperti ini yang di buat LDK paling banyak 70 orang, jadi pengalaman penting untuk bisa mengatur SDM, Waktu dan Biaya agar efektif sesuai kebutuhan.
(bersambung bagian ketiga)

belum baca bagian pertama silahkan klik link dibawah ini :

Rabu, 09 Mei 2012

Ada Duka* di Kuta Malaka bagian 1

Catatan Trainer Daurah Kapmi Banda Aceh 2012.
oleh : Afriandi C,SP


Catatan ini memuat kronologis waktu dan tempat kejadian yang menimpa tim Trainer DuKa (Daurah Kapmi) , insiden kecil dan kegembiraan mewarna perjalanan. semoga menjadi ibrah untuk kedepannya.


Rabu, 18 April 2012 usai subuh berjamaah di mesjid sabilil jannah dekat rumah ane, tidak terlintas firasat buruk akan menimpa hari itu, sesuai janji hasil syuro kemarin siang di mesjid asrama haji, pagi itu para trainer acara daurah kapmi banda aceh berkumpul jam 06.30 di mesjid oman untuk mempersiapkan alat dan lain yang dianggap penting selama out bond di kuta malaka.

Jam 06.25 Akhi Budi Saputra meng sms ane menayakan uda sampe di oman, hmm penyakit molor bakal terjadi. Fakta dilapangan berbicara, keberangkatan ke kuta malaka molor 1 jam untuk menunggu trainer akhwatnya sarapan pagi, selidik punya selidik panpel ngak nyedain makan pagi buat trainer, al hasil akh ikhwan pun kecolongan, beliau tidak ada persiapan tenaga lantaran dikejar waktu untuk ontime di mesjid oman.

Jam 07.30 perjalanan menuju kuta malaka pun dimulai, rombogan trainer ikhwan yang terdiri ane, budi teknik, ikhwan ekonomi beserta junior kami mukhlas dari teknik, (kalo yang akhwat lebih didominasi dari FP unsyiah dan sebagian dari FK n FKIP), menurut info dari pak ketua (akh budi) , akh sanusi uda stand by dengan motornya di bundaran lambaro.

Jam 07.45 ane pimpin rombongan perjalanan dari kawasan lambaro menuju kuta malaka, namun terpaksa ganti ketua rombongan lagi karna kereta ane isi bensin di spbu aneuk galong.

Jam 08.00 rombongan trainer berhenti 50 meter setelah tugu pesawat, membeli sarapan pagi dan logistik  buat trainer ikhwan sambil menunggu rombongan akhwat lainnya yang masih ketinggalan, rupanya disitu ada warung yang jual air mineral merk terkenal lumayan murah, padahal di kota 3000an. (prinsip ekonominya keluar, dengan modal sedikit keuntungan yang didapat harus maksimal).

Jam 08.15 perjalanan dilanjutkan kembali ke kuta malaka, satu-satunya petunjuk memasuki zona tersebut  adanya pamflet bertuliskan PT Kuta Malaka Lemona, jalan diperkampungan tersebut kondisinya tidak terawat, melewati peternakan dan beberapa sungai kecil menjadikan ekspedisi ini terasa berbeda dengan pengalaman menjadi trainer di tempat lain. Tidak ada gambaran apa-apa mengenai lokasi tersebut kecuali hasil rapat kemarin yang melarang trainer membawa motor matik karena kondisi lapangan memang berisko, maka apa yang tidak ane harapakan pun terjadi, akhwatnya pake acara bawa matik segala , alhasil setelah melawati sungai ke lima ( sekitar kawasan perkebunan buah naga) ane dan sanusi yang memang berada diposisi akhir rombongan spontan mencium bau karet terbakar dari motor matik akhwat@, akhwat tersebut panik, tapi sanusi dengan enteng menjawab “ ngak pa2 selagi masih bisa narik lanjutkan terus… sambil keluarin kamera jepret buah naga (parah bercandanya kawan ini). Perjalanan tetap dilanjutkan setelah melewati sungai ke Sembilan (jalur cepat kata si mukhlas) menuju TKP (air terjun kuta malaka) tantangan berat mulai menghadang yaitu melewati track jalan mendaki, ada 4 titik dimana trainer ikhwan turun tangan mengevakuasi kreta akhwat yang terjebak lumpur sebelum sampai di titik pemberhentian.

Jam 09.45 akhirnya kami sampai di tempat pemberhentian berupa jambo, namun kondisinya sangat tidak terawat, 2 lembar daun pintu terbaring di lantai, wc rusak total, hanya tersisa beberapa potongan kayu bakar bekas api unggun, dibalik itu semua diganti sebuah pemandangan indah gunung seulawah berdiri perkasa, tampak dari kejauhan hamparan sawah dengan beberapa titik asap pemabakaran jerami, menoleh ke samping jambo hutan belantara dengan padang rumput menutupi perbukitan di kawasan kuta malaka hmm Subhanallah indahnya rasanya ingin segera bergegas menuju air terjun. Perjalanan dilanjutkan kembali dengan jalan kaki melewati hutan, pemandangan mulai terusik tatkala sampah plastik bertaburan di jalan setapak, kondisi alam yang tidak terjaga dengan baik oleh manusia. Gemericik air mulai terdengar sayup2, seakan perjalanan kami sudah semakin dekat.

(bersambung ke bagian 2)

 

Minggu, 22 April 2012

Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah

Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.
Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.
Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Quran, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.
Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.
Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.
Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.
Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.
Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.
Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.
Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.
Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.
Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.
Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.
Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, “Nabi saja bisa meleset janjinya.” Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, “Nabi yang mana janjinya tidak tepat,” Kopasanda itu malah menjawab, “Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini.” Rahmat remaja langsung menyambut, “Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu,” ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.
Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.
Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul “Perang Yarmuk” yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.
Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab “Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya,” ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.
Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.
Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.
Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, “Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini.” Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. “Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje,” ujar ustadz tadi. “Bah, ini rada-rada ketemu,” ujar Rahmat muda dalam hati.
Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, “Ini mau kemana sih?” Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. “Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah,” ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.
Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).
Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu
Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.
Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.
Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.
Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.
Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.
Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.
Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).
Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. “Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum,” ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.
Demikian biografi singkat KH Rahmat Abdullah, semoga Allah melapangkan kuburnya, yang kami kutip dari warisansangmurabbi.com. Beberapa tulisan beliau bisa disimak di Hasanalbanna.com.
Sumber : http://www.fimadani.com/sang-murabbi-kh-rahmat-abdullah/

Sabtu, 24 Maret 2012

KEBOHONGAN PEMERINTAH TERKAIT SUBSIDI BBM



"Selamat pagi, sahabat kompasiania kesempatan kali ini kita akan bahas isu yang sedang hangat di bicarakan yaitu terkait kebijakan Pemerintah untuk menaikan harga BBM dengan dalih ” APBN 2012 JEBOL” yang saya dapat pastikan itu hanyalah sebuah kebohongan dari Pemerintah rezim SBY saat ini. Data ini saya Dapatkan Dari sahabat saya Iwan Piliang seorang Citizen Reporter yang menghadiri Seminar oleh Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) pada tanggal 21 Maret 2012 yang di pelopori oleh Kwik Kian Ge dan Prof Kurtubi.
Dalam paparan ini saya memberlakukan penyederhaan atau simplifikasi dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang sangat jelas tentang esensinya saja.
Maka saya mengasumsikan bahwa semua minyak mentah Indonesia dijadikan satu jenis BBM saja, yaitu bensin Premium. Metode ini sering digunakan untuk memperoleh gambaran tentang esensi atau inti permasalahannya. Metode ini dikenal dengan istilah method of decreasing abstraction, terutama kalau dilanjutkan dengan penyempurnaan dengan cara memasukkan semua detil dari data dan kenyataan, yang dikenal dengan istilah putting the flesh on the bones.
Cara perhitungan yang saya lakukan dan dijadikan dasar untuk paparan hari ini ternyata 99% sama dengan perhitungan oleh Pemerintah yang tentunya sangat mendetil dan akurat.
Dengan data dan asumsi yang sama, Pemerintah mencantumkan kelebihan uang tunai sebesar Rp. 96,8 trilyun, dan saya tiba pada kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun
berikut ini penjelasannya saya uraikan lebih spesifik :
Kepada masyarakat diberikan gambaran bahwa setiap kali harga minyak mentah di pasar internasional meningkat, dengan sendirinya pemerintah harus mengeluarkan uang esktra, dengan istilah “untuk membayar subsidi BBM yang membengkak”.
Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Hal ini membuat bahwa permintaan senantiasa meningkat sedangkan berbarengan dengan itu, penawarannya senantiasa menyusut.
Sejak lama para pemimpin dan cendekiawan Indonesia berhasil di “brainwash” dengan sebuah doktrin yang mengatakan : “Semua minyak mentah yang dibutuhkan oleh penduduk Indonesia harus dinilai dengan harga internasional, walaupun kita mempunyai minyak mentah sendiri.” Dengan kata lain, bangsa Indonesia yang mempunyai minyak harus membayar minyak ini dengan harga internasional.
Harga BBM yang dikenakan pada rakyat Indonesia tidak selalu sama dengan ekivalen harga minyak mentahnya. Bilamana harga BBM lebih rendah dibandingkan dengan ekivalen harga minyak mentahnya di pasar internasional, dikatakan bahwa pemerintah merugi, memberi subsidi untuk perbedaan harga ini. Lantas dikatakan bahwa “subsidi” sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, sedangkan pemerintah tidak memilikinya. Maka APBN akan jebol, dan untuk menghindarinya, harga BBM harus dinaikkan.
Pikiran tersebut adalah pikiran yang sesat, ditinjau dari sudut teori kalkulasi harga pokok dengan metode apapun juga. Penyesatannya dapat dituangkan dalam angka-angka yang sebagai berikut.
Harga bensin premium yang Rp. 4.500 per liter sekarang ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 69,50 per barrel. Harga yang berlaku US$ 105 per barrel. Lantas dikatakan bahwa pemerintah merugi US$ 35,50 per barrel. Dalam rupiah, pemerintah merugi sebesar US$ 35,50 x Rp. 9.000 = Rp. 319.500 per barrel. Ini sama dengan Rp. 2009, 43 per liter (Rp. 319.500 : 159). Karena konsumsi BBM Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, dikatakan bahwa kerugiannya 63 milyar x Rp. 2009,43 = Rp. 126,59 trilyun per tahun. Maka kalau harga bensin premium dipertahankan sebesar Rp. 4.500 per liter, pemerintah merugi atau memberi subsidi sebesar Rp. 126,59 trilyun. Uang ini tidak dimiliki, sehingga APBN akan jebol.
Pikiran yang didasarkan atas perhitungan di atas sangat menyesatkan, karena sama sekali tidak memperhitunkan kenyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki minyak mentah sendiri di dalam perut buminya.
Pengadaan BBM oleh Pertamina berlangsung atas perintah dari Pemerintah. Pertamina diperintahkan untuk mengadakan 63 milyar liter bensin premium setiap tahunnya, yang harus dijual dengan harga Rp. 4.500 per liter. Maka perolehan Pertamina atas hasil penjualan bensin premium sebesar 63.000.000.000 liter x Rp. 4.500 = Rp. 283,5 trilyun.
Pertamina disuruh membeli dari:
Pemerintah
37,7808 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 224,5691tr
Pasar internasional
25,2192 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 149,903 tr




Jumlahnya
63 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 374,4721 tr




Biaya LRT
63 milyar liter @Rp. 566

Rp. 35,658 tr




Jumlah Pengeluaran Pertamina

Rp. 410,13 tr




Hasil Penjualan Pert
63 milyar liter @ Rp. 4.500

Rp. 283,5 tr




PERTAMINA DEFISIT/TEKOR/KEKURANGAN TUNAI

Rp. 126,63 tr.
=============
Tabel di atas menunjukkan bahwa setelah menurut dengan patuh apa saja yang diperintahkan oleh Pemerintah, Pertamina kekurangan uang tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun.
Pemerintah menambal defisit tersebut dengan membayar tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun yang katanya membuat jebolnya APBN, karena uang ini tidak dimiliki oleh Pemerintah.
Ini jelas bohong di siang hari bolong. Kita lihat baris paling atas dari Tabel denga huruf tebal (bold), bahwa Pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 trilyun. Jumlah penerimaan oleh Pemerintah ini tidak pernah disebut-sebut. Yang ditonjol-tonjolkan hanya tekornya Pertamina sebesar Rp. 126,63 trilyun yang harus ditomboki oleh Pemerintah
Dalam pembicaraan tentang BBM, kata “subsidi BBM” yang paling banyak dipakai. Kebanyakan dari elit bangsa kita, baik yang ada di dalam pemerintahan maupun yang di luar mempunyai pengertian yang sama ketika mereka mengucapkan kata “subsidi BBM”.
Ketika mulut mengucapkan dua kata “subsidi BBM”, otaknya mengatakan “perbedaan antara harga minyak mentah internasional dengan harga yang dikenakan kepada bangsa Indonesia.” Ketika mulut mengucapkan “Subsidi bensin premium sebesar Rp. 2.009 per liter”, otaknya berpikir : “Harga minyak mentah USD 105 per barrel setara dengan dengan Rp. 6.509 per liter bensin premium, sedangkan harga bensin premium hanya Rp. 4.500 per liter”.
Mengapa para elit itu berpikir bahwa harga minyak mentah yang milik kita sendiri harus ditentukan oleh mekanisme pasar yang dikoordinasikan oleh NYMEX di New York ?
Karena mereka sudah di brain wash bahwa harga adalah yang berlaku di pasar internasional pada saat mengucapkan harga yang bersangkutan. Maka karena sekarang ini harga minyak mentah yang ditentukan dan diumumkan oleh NYMEX sebesar USD 105 per barrel atau setara dengan bensin premium seharga Rp. 6.509 per liter, dan harga yang diberlakukan untuk bangsa Indonesia sebesar Rp. 4.500 per liter, mereka teriak : “Pemerintah merugi sebesar Rp. 2.009 per liter”. Karena konsumsi bangsa Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, maka Pertamin merugi Rp. 126,567 trilyun per tahun.
Selisih ini disebut “subsidi”, dan lebih konyol lagi, karena lantas mengatakan bahwa “subsidi” ini sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan”.
Kita saksikan mulai maraknya demonstrasi menolak kenaikan harga bensin premium. Bukan hanya karena kenaikan yang akan diberlakukan oleh Pemerintah memang sangat memberatkan, tetapi juga karena rakyat dengan cara pikir dan bahasanya sendiri mengerti bahwa yang dikatakan oleh Pemerintah tidak benar.
Banyak yang menanyakan kepada saya : Kita punya minyak di bawah perut bumi kita. Kenapa kok menjadi sedih kalau harganya meningkat ? Orang punya barang yang harganya naik kan seharusnya lebih senang ?
Dalam hal minyak dan bensin, dengan kenaikan harga di pasar internasional bukankah kita harus berkata : “Untunglah kita punyak minyak sendiri, sehingga harus mengimpor sedikit saja.”
KESIMPULAN
Kesimpulan dari paparan kami yalah :
1. Pemerintah telah melanggar UUD RI
2. Pemerintah telah mengatakan hal yang tidak benar kepada rakyatnya, karena mengatakan mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 126 tr, sedangkan kenyataannya kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun.
3. Dengan menaikkan premium menjadi Rp. 6.000 per liter, Pemerintah ingin memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, yaitu sebesar Rp. 192,455 trilyun, bukan sekedar menutup “bolongnya” APBN.
4. Pertamina sudah mengambil keuntungan besar dari rakyat Indonesia dalam hal bensin Pertamax dan Pertamax Plus. Nampaknya tidak rela hanya memperoleh kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun dari rakyatnya. Maunya sebesar Rp. 192,455 trilyun dengan cara menaikkan harga bensin premium menjadi Rp. 6.000 per liter.
Disampaikan Oleh Kwik Kian Gie
Dalam Seminar oleh Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) pada tanggal 21 Maret 2012

Senin, 19 Maret 2012

Mencari Dunia yang hilang di Empe Awee, bagian ke-6 (Habis)


(Catatan perjalanan  di education camp 4 LDK Fosma Unsyiah)
Oleh : Afriandi C,Sp



Tim survey ikhwan dan akhwat kembali ke titik awal, tempat dimana memakirkan kuda besi kami. Di antara bukit dan padang rumput yang hijau menyibak semangat ane untuk berazzam bisa mencapai salah satu puncak bukit di pegunungan Empe Awee.
Saatnya back to mess, ane bersama dua sarjana muda (Akh Zam dan Akh Ujang) yang dari tadi kebigungan mencari tumpangan, akhirnya menaiki alias nebeng dengan kereta supra ane, padahal ane sudah wanti- wanti ke mereka kalo ban belakang kereta ane bisa bocor di perjalanan karena 3 in 1 dengan mereka.
So bujukan maut akh Zam n Akh Ujang bikin ane luluh, rasanya saying kalo ditinggalin, mana messnya jauh lagi… diperjalanan ane jadi ketar –ketir , bocor-ngak ya ban belakang, sesekali bunyi pelek menyikut batu jalanan, tapi akh Zam n Akh Ujang cuek bebek, malah asyik ngomong pake bahasa Sunda.
Tak lama sampailah kami di Mess, segera ane bergabung dengan jamaah makan pagi ;lainnya, lauk ala kadar sisa2 perjuangan yang penting ada buat ngisiin tenaga sehari full di lapangan.
***
Jam 09.00 di lapangan mesjid Empe Awee, Akh Zam mengomandani barisan peserta ikhwan n akhwat serta memberi petunjuk teknis di lapangan. Ane menunggu instruksi untuk mengawal barisan peserta di belakang.
Ternyata benar rombongan peserta akhwat kena “super  trap” jalan lingkar Empe Awee, alhasil panitia akhwat yang mendampingi barisan adik2nya jadi kelimpungan, segera ane bergegas member tanda ke jalur utama menuju tempat out-bond,
***
Jam 09.30, kembali ketitik out-bond, segera merakit game spider web, eh jarring yang ane buat diambil alih untuk akhwat, gawat waktu tinggal sedikit, para peserta ikhwan mulai datang ke pos , dengan memutar otak liat kiri kanan Cuma ada tali tambang 2 utas dan 1 botol aqua, cukup untuk rakit game baru, akh budy jadi bigung tak kala ane suruh balik adik2 tersebut ke pos utama minta password, padahal strategi ulur waktu untuk rakit game yang ane beri nama “ Mini Titian Sirrah” (game yang aneh -____-! ).
Peserta ikhwan kembali ke pos ane, dan game siap di mulai, arahan sedikit dari ku buat peserta, karena teknis game nya Akh Budy ngak tau, “ adik2, gamenya adalah membawa botol aqua dari titik A ke titik B diamana cincin tali tidak boleh menyentuh relnya (tali tambang) dalam waktu 5 menit, dan botol tak boleh terjatuh jika terjadi kesalahan ulangi kembali, pemenang adalah yang mencapai titik B sambill bertakbir di puncak.
1…2..3, mulai, para peserta mulai serius dan akhirnya mereka mencoba game aneh ciptaan ane, berikutnya juga dialami oleh kelompok ikhwan yang datang berikutnya. Karena Cuma 2 kelompok, usai juga tugas ane sebagai trainer n jurkun pos tersebut bersama Akh Budy, kalau yang trainer akhwat mesti lanjut karena pesertanya ada 4 kelompok. Saatnya ane n akh budy bergegas menuju puncak empe awe sambil mengibarkan bendera fosma di atas sana

***
Angin semilir meniup diantara daun telingaku, ternyata sampai juga pendakian bersama akhi budi di puncak bukit empe awe, terlihat dari jauh hilir mudik peserta EC 4 (education camp IV) mencari pos yang sudah ditentukan oleh trainer, sesekali gema yel-yel peserta menambah ramai riuh ceria kegiatan hari terakhir EC 4. Disudut lain pemandangan dari atas bukit terlihat jelas mesjid pesantren berwarna putih di arah barat, posisinya yang agak tinggi di ikuti perumahan dan komplek sekolah bersusun bagaikan anak tangga yang bertepi dengan sawah di bawahnya menambah khas suasana pedesaan yang kini jarang ku lihat di Banda Aceh.
Angin mengalihkan pandanganku kearah lain, disana terlihat jelas barisan bukit yang dengan pandang rumput yang gersang disertai  lembah yang dipenuhi pepohonan. Sayang saat itu tidak ada kamera, sepertinya hambar jika tak mengambil panorama tersebut. Beberapa kali ku coba melepaskan kejenuhan dengan memencet tuts toa, yang suaranya melengking ke penjuru area. Bang budi langsung menginstruksikan kepadaku untuk memasang slayer hitam dan pada saat itu juga bang budi turun ke bawah untuk mengambil konsumsi.
Waktu terus berjalan, awan hitam mulai bersiap menghampiriku yang sedang duduk manis diatas puncak empe awe bersama rombongan peserta ikhwan yang berlomba mengambil slayer hitam, ane sadar ternyata  inilah dunia yang hilang tersebut, bersyukur bahwa tempat ini masih sangat asri belum terjamah tangan2 jahil manusia, ngak kebayang 2020 nanti seperti apa ya, ane rindu suasasna ini. Suasana di atas bukit empe awee menyanyikan lagu jejak (Izzis) bersama peserta ikhwan dan trainer lainnya. Langit menangis menemani perjalanan kami turun ke bumi (maksudnya turun ke bawah).

__THE END__